Selasa, 07 Oktober 2008

Ater-Ater; Tradisi Penutup Lebaran yang Mulai Ditinggalkan

[ Radar Jember (Jawa Pos), Rabu, 08 Oktober 2008 ]
Lebaran tanpa merasakan dan saling berkirim kupat, terasa ada yang kurang. Ada banyak makna di balik hantaran tersebut. Selain memberi kepada saudara juga menyambung tali silaturahmi antarkerabat. Namun, tradisi itu kini mulai mengendur seiring berubahnya zaman.KUN WAZIS, JEMBER ------------------------------------------------
Lebaran Kupatan sudah ditandai dengan antusias warga membeli kupat dari janur. Sedangkan para pedagang juga seperti sudah mafhum kalau produk janur kupatnya pasti diserbu pembeli. Hiruk-pikuk di dapur ibu-ibu pun berubah sesak karena semuanya ingin menyajikan menu khas terbaik di Lebaran Kupatan itu.

Beragam menu pendamping pun siap disajikan untuk para tamu atau kerabat yang masih bersilaturahmi menyambung persahabatan. Tapi, kalangan ibu-ibu tidak puas sampai hanya menyiapkan menu. Satu keluarga biasanya mengusung menu itu untuk dikirimkan kepada saudara mereka yang lain. Dan, bagi kerabat yang dikirimi kupat pun membalas.
Hingga tradisi ini kemudian disebut Ater-ater atau Ter-ater. "Kalau kami ater-ater itu seperti wajib. Karena itu sebagai bentuk syukur kita kepada Allah, dapat memungkasi Hari Raya Idul Fitri dengan mengirim makanan kepada saudara yang lain," ujar Siti Zainab, warga Patrang yang kemarin mengirimkan ke rumah saudaranya Marti di kawasan Sumbersari.
Menurut Zainab, ater-ater bukanlah muncul karena ingin pamer makanan tapi itu lebih dari ungkapan syukur agar kerabat bisa lebih menikmati hasil rezeki saudaranya. Sehingga, budaya ater-ater ini tidak mengenal strata, apakah mereka itu orang kaya atau miskin. Dalam kultur masyarakat Madura yang berada di kawasan Jember, semuanya bisa saling berbagi. "Mulanya, di rumah-rumah warga yang memegang acara ater-ater itu, mereka memiliki rantang ukuran besar yang ditempatkan di atas almari warga," kata perempuan berkerudung ini.
Saking kuatnya tradisi ini, maka aksi ater-ater tidak hanya sekadar antar desa dalam kabupaten, tetapi juga rela mengirimkan menu kupatan itu kepada saudara mereka di luar kota. Sebut saja, Endang warga Bondowoso yang mengaku gembira dengan kedatangan menu kupatan dari saudara di Kalisat. "Ini harus dipertahankan. Karena ada yang mulai tergeser, kalah dengan acara-acara semacam reuni atau pertemuan bani-bani," ujar perempuan yang biasa berdagang sayur ini.
Ungkapan Endang punya argumentasi. Ater-ater tidak sama dengan reuni. Kalau reuni atau pertemuan keluarga bani itu ditempatkan di salah satu gedung atau tempat tertentu dan semua peserta dari kerabat datang ke acara tersebut. Tetapi, ater-ater adalah mendatangi, melihat kondisi kerabatnya. "Sehingga, kedatangan dengan membawa makanan itu sekaligus menengok bagaimana keadaan keluarga, apa ada masalah yang bisa dibantu," ujarnya.
Demikian juga balasan kiriman itu tidak hanya bermakna mereka akan membalas kiriman yang lebih baik dari menu saudara yang mengirimkan kupatan terlebih dahulu, namun justru mengungkapkan apa adanya. "Dan, kalau ketemu dengan pengirim dari saudara tersebut, biasanya menanyakan kelanjutan persoalan yang sedang dihadapi itu apa sudah ada jalan keluarnya atau belum," ujarnya.
Untuk itu, melihat dampak positif itu, dirinya khawatir kalau budaya ater-ater untuk memperkokoh tradisi kupatan itu mulai ditinggalkan. Untuk itu, dia juga menyiapkan kiat agar anak-anak dan kerabatnya terus menguri-uri tradisi tersebut. Sehingga, puluhan atau bahkan ratusan tahun generasi mendatang masih bisa menikmati manisnya menu kupatan itu. "Dan, tetap bisa melestarikan ater-ater ini sebagai penyambung rasa persaudaraan agar tetap terjalin," katanya. (*)

Tidak ada komentar: