Ranggawarsita (1802-1873), pujangga yang terkenal dengan ramalannya akan datangnya Zaman Edan itu sesungguhnya merupakan Ranggawarsita III. Ia adalah putra Raden Ngabei Ranggawarsita II. Sedang Raden Ngabei Ranggawarsita II adalah putra dari Raden Ngabei Ranggawarsita I yang tidak lain adalah Raden Tumenggung Yasadipura II. Sedangkan Raden Yasadipura II (Raden Ngabei Ranggawarsita I) adalah Putra Raden Tumenggung Yasadipura I.
Dari garis ayah Raden Ngabei Ranggawarsita III ini adalah keturunan ke-10 dari Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya. Sedangkan dari garis ibu ia juga masih keturunan ke-10 dari Sultan Trenggana di Demak.
Makam Raden Ngabei Ranggawarsita yang memiliki nama kecil Bagus Burhan dan lahir 15 Maret 1802 ini berada di Dukuh Jambon, Dusun Sabrang Lor, Kalurahan Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten. Di tempat ini juga dimakamkan jasad orang penting di masanya di antaranya Carel Frederick Winter seorang ahli bahasa yang merupakan sahabat Ranggawarsita.
Hal yang paling fenomenal dari Ranggawarsita adalah ramalannya akan Zaman Edan yang dituliskannya dalam Serat Kalatidha dalam bentuk tembang. Sebuah titimangsa atau zaman yang diliputi keserakahan dan tidak adanya rasa malu lagi untuk berbuat jahat dan nista. Banyak orang berpendapat bahwa apa yang dituliskan oleh Ranggawarsita adalah keadaan pada zamannya sendiri. Lepas dari itu tampaknya dalam setiap zaman selalu ada saja kebobrokannya meskipun dalam kadar yang berbeda. Akan tetapi mungkin memang ada zaman-zaman yang demikian parah tingkat kebusukannya.
Sebelumnya, kakek Ranggawarsita yang bernama Yasadipura II pernah juga menuliskan syair yang sebenarnya juga mencela situasi zaman dan masyarakatnya pada waktu itu. Tulisan Yasadipura II tentang hal itu tertuang dalam karyanya yang berjudul Serat Wicara Keras. Dalam serat tersebut secara keras Yasadipura II mengatakan bahwa bayi-bayi yang lahir yang kemudian menjadi manusia minim moral, bejat, menindas sesama bangsa itu adalah jelmaan iblis yang pada waktu ayah-ibunya bersenggama dulu masuk dan ikut bersenggama pula.
Ramalan Ranggawarsita tentang Zaman Edan ini begitu meresap di masyarakat (khususnya Jawa). Tidak mengherankan jika setiap kali masyarakat merasakan bahwa keadaan sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya dalam suatu negara kacau balaui, masyarakat lantas mengidentifikasikannya sebagai Zaman Edan. Apakah saat ini kita masih saja berkutat di Zaman Edan yang tidak karuan itu ? Jawabannya tampaknya bisa beragam. Tergantung masing-masing kepentingan orang, latar belakang, dan sikon orang yang bersangkutan. Tentu, harapan masing-masing orang adalah bisa hidup di zaman serba aman, nyaman, tenteram, dan makmur. Jauh dari tindakan busuk di sektor mana dan apa pun. Sekali lagi, tergantung Anda memandang dan memaknainya.
Redaksi TembiFoto: SartonoLokasi: Kompleks Makam R. Ngabei Ranggawarsita, Palar, Trucuk, Klaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar